Bab I
JUAL BELI (Al-Bai’)
A.
Pengertian dan
landasan Syar’iy
Para fuqoha’ menyampaikan definisi yang berbeda-beda antara lain,
sebagai beriku;[1]
Menurut Fuqoha’ Hanafiyah:
“menukarkan harta dengan harta melalui tata cara tertentu, atau
mempertukarkan sesuatu yang disenangi dengan sesuatu yang lain melalui tata
cara tertentu yang dapat dipahami sebagai al-bai’, seperti melalui ijab dan
ta’athi( saling menyerahkan)”.
Imam Nawawi dalam Kitab al-Majmu’ menyampaikan definisi sebagai
berikut: “Mempertukarkan harta untuk tujuan pemilikan”
Hampir senada pendapat ini Ibnu Qudamah menyampiakan definisi
sebagai berikut: “mempertukarkan harta dengan harta dengan tujuan pemilikan
dan penyerahan milik”.
Karena jual beli merupakan kebutuhan dhoruri dalam kehidupan
manusia, artinya manusia tidak dapat hidup tanpa kegiatan jual-beli, maka Islam
menetapkan kebolehannya sebagaimana dinyatakan dalam benak keterangan al-Qur’an
dan Hadits Nabi. Misalnya Firman Allah, “Allah menhalalkan Jual beli dan
mengharamkan riba” ; (Hendaklah mensaksikannya jika engkau sekalian
berjual-beli). Rasulullah SAW, pernah ditanya oleh seorang sahabat, “pekerjaan
apakah yang paling baik?...”Beliau menjawab” “pekerjaan yang dilakukan seseorang
dengan tangannya dan setiap jual-beli yang baik,[2]
B. Rukun Dan Syarat Jual
Beli
Rukun jual beli menurut Fuqoha’ Hanafiyah adalah ijab dan Qobul
yang menunjuk kepada saling menukarkan, atau dalam bentuk lain yang dapat
menggantikannya, seperti pada kasus ta’athi sedangkan menurut jumhur fuqoha’
rukun jual beli ada empat: pihak penjual, pihak pembeli, shighat jual beli dan
objek jual beli.3
Menurut Mazhab Hanafiyah:
Syarat jual-beli terdapat empat macam syarat yang harus terpenuhi
dalam jual-beli:
1.
Syarat in’aqad terdiri
dari:
a.
yang berkenaan
dengan aqid: harus cakap bertindak hukum.
b.
yang berkenaan
dengan akadnya sendiri): adanya persesuaian antara ijab dan qobul, dan
berlangsung dalam majelis akad.
c.
(yang berkenaan
dengan obyek jual-beli): barangnya ada, berupa mal mutaqowim, milik sendiri,
dan dapat diserah-terima ketika akad.
2.
Syarat shihah
yang bersifat umum adalah: bahwasannya jual beli tersebut tidak mengandung
salah satu dari enam unsur yang merusaknya, yakni: jihalah(ketidakjelasan),
ikrah(paksaan), tauqit(pembatasan waktu), gharar (tipudaya), dharar (aniaya)
dan persyaratan yang merugikan pihak lain.
Adapun yang bersifat kushus adalah: penyerahan dalam hal jual-beli
benda bergerak, kejelasan mengenai harga pokok dalam hal al-ba’i almurabahah,
terpenuhinya sejumlah kriteria tertentu dalam hal bai’ul-salam , tidak
mengandung unsur riba dalam jual beli harta ribawi.
3.
Syarat nafadz
ada dua:
a.
Adanya unsur
milkiyah atau wilayah.
b.
Bendanya yang
diperjualbelikan tidak mengandung hak orang lain.
4.
Syarat luzum
yakni tidak adanya hak khiyar yang memberikan pilihan kepada masing-masing
pihak antara membatalkan atau meneruskan jual-beli.
Menurut Madzab Malikyah:
Fuqoha’ Malikiyah merumuskan tiga macam syarat Jual-beli:
a.
berkaitan
dengan ‘aqoid yaitu Mumayyiz, cakap hukum, berakal sehat, pemilik barang.
b.
Syarat yang
berkaitan dengan shigat yaitu: dilaksanakan dalam satu majlis, antara ijab dan
qobul tidak terputus.
c.
Syarat yang
berkaitan dengan obyeknya adalah: tidak dilarang oleh syara’, suci, bermanfaat,
di ketahui oleh ‘aqid, dapat diserahterimakan.
Menurut Mazhab Syafi’iyah:
Syarat yang berkaitan dengan ‘aqaid: (a) al-rusyd, yakni baligh,
berakal dan cakap hukum, (b) tidak dipaksa,(c) Islam, dalam hal jual beli
Mushaf dan kitab hadits,(d) tidak kafir harbi dalam hal jual beli peralatan
perang.
Fuqoha’ Syafi’iyah merumuskan dua kelompok persyaratan:
a.
Syarat yang
berkaitan dengan ijab qobul atau shigat akad:
1.
Berupa
percakapan dua pihak (kitobah).
2.
Pihak pertama
menyatakan barang dan harganya.
3.
Qobul
dinyatakan oleh pihak kedua (mukhatab).
4.
Antara ijab dan
qobul tidak terputus dengan percakapan lain.
5.
Kalimat qabul
tidak berubah dengan qabul yang baru.
6.
Terdapat
kesesuaian antara ijab dan qobul.
7.
Shigat akad
tidak digantungkan dengan sesuatu yang lain.
8.
Tidak dibatasi
dalam periode waktu tertentu
b.
Syarat yang berkaitan dengan obyek jual-beli:
1.
Harus suci
2.
Dapat
diserah-terimakan
3.
Dapat
dimanfaatkan secara syara’
4.
Hak milik
sendiri atau milik orang lain dengan kuasa atasnya.
5.
Berupa materi
dan sifat-sifatnya dapat dinyatakan secara jelas.
Menurut Madzab Hanabillah:
Fuqoha’ Hanabillah merumuskan tiga kategori persyaratan:
a.
Syarat yang
berkaitan dengan para pihak (aqid):
1.
Al-Rusyd
(baligh dan berakal sehat) kecuali dalam jual-beli barang-barang yang ringan
2.
Ada kerelaan
b.
Syarat yang berkaitan
dengan shigat:
1.
Berlangsung
dalam satu majlis.
2.
Antara ijab dan
qobul tidak terputus
3.
Akadnya tidak
dibatasi dengan periode waktu tertentu.
c.
Syarat yang
berkaitan dengan obyek:
1.
Berupa mal
(harta)
2.
Harta tersebut
milik para pihak
3.
Dapat
diserahterimakan
4.
dinyatakan
secara jelas oleh para pihak
5.
harga
dinyatakan secara jelas.
6.
Tidak ada
halangan syara’.
C.Ikhtisar Persamaan dan perbedaan Antara Mazhab
Syarat yang berkaitan dengan aqid (para pihak).
Semua Mazhab
sepakat bahwasanya seorang aqid harus mumayiz, namun mereka berbeda pendapat
tentang syarat baligh, Hanfiyah dan malikya menganggapnya sebagai syarat
nafadz, sedangkan syafi’iyah dan Hanabillah memasukkannya sebagai syarat
in’aqad. Menurut jumhur kebebasan kehendak (ihtiyar) sebagai syarat in’aqad
sedang menurut Hanabillah merupakan merupakan nafadz.
Syarat yang berkaitan dengan shigat.
Seluruh Mazhab sepakat bahwasanya shigat akad jual-beli harus
dilaksanakan dalam satu majlis, antara keduanya terdapat persesuaian dan tidak
terputus, tidak digantungkan dengan sesuatu yang lain dan tidak dibatasi dengan
periode waktu tertentu.
Syarat yang berkaitan dengan obyek jual-beli.
Pada prinsipnya
seluruh mazhab sepakat bahwasannya obyek akad haruslah berupa mal mutaqawwim,
suci, wujud (ada), diketahui secara jelas dan dapat diserah-terimakan. Dalam
hal jihalah (ketidak jelasan obyek akad) menurut Hanafiyah mengakibatkan fasid,
sedang menurut jumhur berakibat membatalkan akad jual-beli. Mengenai hak milik,
menurut Hanafiyah merupakan syarat nafadz sedang menurut jumhur merupakan
syarat in’aqad.
D. Pembagian Macam-Macam Jual – Beli
Dari aspek obyeknya jual-beli dibedakan menjadi empat macam:
1.
Bai’
al-Muqoyadhah, atau bai’ ain bil-‘ain, yakni jual-beli barang dengan barang
yang lazim disebut jual-beli barter, seperti menjual hewan dengan gandum.
2.
Bai’ al-Mutlaq,
atau bai’ al-ain bil-dain, yakni jual beli barang dengan barang lain secara
tangguh atau menjual barang dengan tsaman secara mutlaq, seperti Dirham, Rupiah
atau Dolar.
3.
Bai’ al-shar,
atau bai’ al-dain bil-dain, yakni mejualbelikan tsaman (alat pembayaran) dengan
tsaman lainnya, seperti Dinar, Dirham,Dolar atau alat-alat pembayaran lainnya
yang berlaku secara umum.
4.
Bai’al-salam,
atau bai’ al-dain bil ain. Dalam hal ini barang yang diakadkan bukan berfungsi
sebagai mabi’ melainkan berupa dain (tanggungan) sedangkan uang yang bayarkan
sebagai tsaman, bisa jadi berupa ‘ain dan bisa jadi berupa dain namun harus
diserahkan sebelum keduanya berpisah. Oleh karena iu tsaman dalam akad salam
berlaku sebagai ‘ain.
Dari aspek tsaman, jual-beli dibedakan menjadi empat macam:
1.
Bai’
al-Murabahah, yakni jual-beli mabi’ dengan ra’s al-mal (harga pokok) ditambah
sejumlah keuntungan tertentu yang disepakati dalam akad.
2.
Bai’
al-Tauliyah, yakni jual-beli mabi’ dengan harga asal (ra’s al- mal) tanpa ada
penambahan harga atau pengurangan.
3.
Bai’
alwadhi’ah, yakni jual beli barang dengan harga asal dengan pengurangan
sejumlah harga atau diskon.
4.
Bai’al-Musawamah,
yakni jual-beli barang dengan tsaman yang disepakati kedua pihak, karena pihak
penjual cenderung merahasiakan harga asalnya. Ini adalah jual beli paling
populer berkembang di masyarakat sekarang ini.
Bab II
AKAD DALAM JUAL BELI
A.
Definisi Akad
Dalam terminologi hukum Islam akad didefinisikan sebagai berikut:
“Akad adalah pertalian antara ijab dan qobul yang dibenarkan oleh syara’yang
menimbulkan akibat hukum terhadap obyeknya”4
Yang dimaksud
dengan ijab dalam definisi akad adalah ungkapan atau pernyataan kehendak
melakukan perikatan (akad) oleh suatu pihak, biasanya disebut sebagai pihak
pertama. Sedangkan qobul adalah pernyataan atau ungkapan yang menggambarkan
kehendak pihak lain, biasanya dinamakan pihak kedua, menerima atau menyetujui
pernyataan ijab. Maksud term yang dibenarkan oleh syara’ adalah bahwasanya
setiap akad tidak boleh bertentangan dengan ketentuan syari’at Islam. Term ini
merupakan batasan normatif yang sangat prinsip dalam fiqih muamalah.
Akad seperti yang disebutkan dalam definisi di atas merupakan salah
satu perbuatan atau tindakan hukum. Maksudnya akad (perikatan) tersebut
menimbulkan konsekwensi hak dan kewajiban yang mengikat pihak-pihak yang
terkait langsung maupun tidak langsung dengan akad. Perbuatan atau tindakan
hukum atas harta benda dalam fiqih muamalah dinamakan al-tasharuf, yang artinya
sebagai berikut” segala sesuatu (perbuatan) yang bersumber dari kehendak
seseorang dan syara’ menetapkan atasnya sejumlah akibat hukum (hak dan
kewajiban).
Sedangkan tindakan hukum (tasharuf) dibedakan menjadi dua.(1)
tasharuf yang berupa perbuatan, dan (2) tasharuf yang berupa perkataan (tidak
semua perkataan manusia bersifat akad).
B.
Rukun Akad dan
Syarat-syaratnya.
Terdapat perbedaan pandangan dikalangan fuqoha’ berkenaan dengan
rukun akad. Menurut fuqoha’ Jumhur rukun akad terdiri atas:
1.
Al-‘Aqidain,
para pihak yang terlibat langsung dengan akad.
2.
Mahallul ‘aqd,
yakni obyek akad, yakni sesuatu yang hendak diakadkan.
3.
Shighat
al-‘aqd, yakni pernyataan kalimat akad, yang lazimnya dilaksanakan melalui
pernyataan ijab dan pernyataan qobul.
Rukun menurut pengertian istilah fuqoha’ dan ahli ushul
adalah:”sesuatu yang menjadikan tegaknya dan adanya sesuatu sedangkan ia
bersifat internal (dakhiliy) dari sesuatu yang ditegakkannya”5
Berdsarkan pengertian di atas maka rukun akad adalah kesepakatan
dua kehendak, yakni ijab qobul. Seorang pelaku tidak dapat dipandang sebagai
rukun dari perbuatannya, karena pelaku bukan merupakan bagian internal dari
perbuatannya.
Adapun syarat
menurut pengertian fuqoha’ dan ahlul ushul:”segala sesuatu yang dikaitkan pada
tiadanya sesuatu yang lain, tidak pada adanya sesuatu yang lain, sedangkan ia
bersifat eksternal (khorijiy).
Maksudnya tiadanya syarat mengharuskan tiadanya masyrut (sesuatu
yang disyaratkan), sedang adanya syarat tidak mengharuskan adanya masyrut.
C.
Unsur-Unsur
Akad
Unsur pertama:’Aqidaini
Ijab dan qobul yang merupakan esensi akad tidak akan terpenuhi
kecuali ada ‘aqidain (kedua pihak yang melakukan akad).
Unsur Kedua: Mahalul Aqad (Obyek Akad)
Mahalul ‘aqdi atau
al-ma’qud ‘alaih adalah sesuatu yang dijadikan obyek akad dan dikenakan padanya
akibat hukum yang di timbulkannya. Tidak semua benda (barang) dapat di jadikan
obyek akad. Sejumlah benda dipandang tidak dapat menjadi obyek akad baik
menurut syara’ maupun menurut adat seperti (Narkoba).
Fuqoha’ menetapkan lima syarat yang harus terpenuhi pada obyek
akad:
a.
Obyek akad
harus telah ada ketika berlangsung akad.
b.
Obyek akad harus
mal mutaqowwim.
c.
Dapat diserah
terimakan ketika akad berlangsung.
d.
Obyek akad
harus jelas dan dikenali oleh pihak Aqid.
e.
Obyek akad
harus suci, tidak najis dan tidak mutanajis.
Unsur Ketiga: Maudhu’ al-Aqad (Tujuan Akad)
Yang dimaksud
Maudhu’ al-Aqad adalah tujuan dan hukum yang mana suatu akad di syari’atkan
untuk tujuan tersebut. Untuk satu jenis akad tujuan yang hendak di capainya
satu, dan untuk jenis akad lainnya berlaku tujuan yang berbeda.
Untuk akad bai’ tujuan yang hendak dicapai adalah pemindahan pemilikan
dari penjual kepada pembeli dengan imbalan (iwadh), akad hibah bertujuan
pemindahan hak milik tanpa disertai iwadh, akad ijarah bertujuan pemindahan
pemilikan manfaat suatu barang dengan imbalan (iwadh), sedang tujuan akad
ijarah adalah penggunaan manfaat harta tanpa disertai imbalan, dan lain
sebagainya.
Unsur Keempat: Shighat Aqad (formula Akad)
Pada prinsipnya
makna atau esen akad adalah kesepakatan dua kehendak, dan kesepakatan tersebut
lazimnya terjadi melalui formula akad(shighat Akad).
Formula akad(shighat Akad) merupakan unsur akad yang terpenting,
bahkan dalam pandangan fuqoha’ Hanafiyah suatu aqad adalahidentik dengan
shighatnya. Shighat akad yang terdiri dari ijab dan qobul sesungguhnya
merupakan ekspresi kehendak (iradah) yang menggambarkan kesepakatan dan
kerelaan kedua belah pihak atas hak dan kewajiban yang ditimbulkan dari
perikatan akad.
D. Pembagian Macam-Macam Akad
Pembagian macamdan jenis akad dapat dilakukan dari berbagai aspek
dan sudut pandang yang berbeda-beda, sebagaimana berikut:
1.
Akad shahih dan
ghairu shahih
Akad shahih adalah akad yang memenuhi seluruh persyaratan yang
berlaku pada setiap unsur akad (‘aqidain, shighatul ‘aqd, maudhu’ul naqd, dan
mahalul aqd).
Akad ghairu shahih adalah akad yang sebagian unsurnya atau sebagian
rukunnya tidak terpenuhi. Seperti akad jual beli barang najis.
2.
Akad Musamma
dan Akad Ghairu Musamma
Sejumlah akad yang disebutkan oleh syara’ dengan terminologi
tertentu beserta akibat hukumnya dinamakan Akad Musamma. Misalnya, akad bai’,
ijarah,syirkah, hibbah, kafalah, wakalah, rahn, wasiat, qordh dan lain
sebagainya.
Sedangkan Akad ghairu Musamma adalah akad yang mana syara’ tidak
menyebutkan terminologi tertentu dan tidak pula menerangkan akibat hukum yang
ditimbulkannya. Berdasarkan kebutuhan manusia dan perkembangan kemaslahatan
masyarakat seperti istihna’ bai’ al-wafa’ bai’ istijar, dll.
3.
Dari Segi
Maksud dan tujuannya.
Dari segi maksud dan tujuannya, akad dibedakan menjadi tuju macam
sebagaimana berikut:
a.
Akad
al-tamlikiyah.
b.
Akad al-Isqoth.
c.
Akad al-Ithlaq.
d.
Akad al-Taqyid.
e.
Akad
al-tawtsiq.
f.
Akad
al-Isytirak.
g.
Akad al-Hifdh.
4.
Akad ‘Ainiyah
dan Ghairu ‘Ainiyah
Perbedaan ini di dasarkan dari sisi penyempurnaan akad.
Akad ‘Ainiyah adalah akad yang harus di sempurnakan dengan
penyerahan harta benda obyek akad. Seperti Hibbah, ‘Ariyah, wadi’ah, Rahn dan
qord. Adapun Akad Ghairu ‘Ainiyah adalah akad yang kesempurnaannya hanya
didasarkan pada kesempurnaan bentuk akadnya saja dan tidak mengharuskan adanya
penyerahan. Selain lima yang disebutkan diatas termasuk jenis akad Ghairu
‘Ainiyah.
E.Kapan berakhirnya Akad
Berakhirnya akad adakalanya disebabkan karena faskh, kematian atau
karena tidak adanya izin pihak lain dalam hal akad yang mauquf.
Berakhirnya Akad karena fasakh:
Hal-hal yang menyebabkan timbulnya fasakhnya akad adalah sebagai
berikut:
1.
Fasakh karena
Fasadnya akad.
Jika suatu akad berlangsung secara fasid, sperti bai’al-majhul atau
bai’al-muaqqat, maka akad harus difasakhkan baik oleh para pihak yang berakad
maupun oleh keputusan qodhi. Kecuali terdapat halangan fasakh, misalnya jika
pihak pembeli telah menjual atau menghibahkan kepada pihak lain.
2.
Fasakh Karena
Khiyar.
Shahibul khiyar berhak memfasakh akad jika menghendakinya, kecuali
dalam kasus khiyar ‘aib setelah penyerahan barang, kecuali dengan kerelaan
pihak lainnya atau berdasarkan keputusan qhadi.
3.
Fasakh
berdasarkan Iqalah.
Iqalah adalah memfasakhkan akad berdasarkan kesepakatan kedua
pihak, seperti jika salah satu pihak mereka menyesal lalu menghendaki untuk
membatalkannya, yang demikian ini hanya bisa terjadi atas kesepakatan pihak
lain.
4.
Fasakh karena
Tidak ada Realisasi.
Fasakh ini khusus berlaku pada khiyar naqd, sebagaimana telah
diuraikan dimuka. Misalnya karena rusaknya obyek akad sebelum penyerahan, atau
seperti pada kasus ijarah lantaran adanya udzur (halangan) pada pihak musta’jir
atau pada benda yang disewa dan lainnya.
5.
Fasakh karena
jatuh Tempo atau karena tujuan akad telah terealisir.
Jika batas waktu yang ditetapkan dalam akad telah berakhir, atau
jika tujuan akad telah terealisir, maka akad dengan sendirinya menjadi fasakh
(berakhir). Seperti ketika batas waktu sewa telah berakhir, ketika hutang gadai
telah terlunasi, ketika wakalah telah dilaksanakan, dan lain-lainnya.
Berakhirnya Akad Karena Kematian
Kematian menjadi
penyebab berakhirnya sejumlah akad, sebagai berikut:
1.
Ijarah
(sewa-menyewa)
Menurut fuqoha’ hanafiyah kematian seseorang menyebabkan
berakhirnya akad ijarah. Berdasarkan alasan bahwasannya ijarah merupakan akad
yang berlaku atas dua pihak jika ssalah satu pihak meninggal maka dengan
sendirinya berakhirlah akad. Menurut jumhur fuqoha’ selain Hanafiyah, kematian
seseorang tidak menyebabkan berakhirnya akad ijarah.
2.
Al-Rahn (gadai)
dan Kafalah (penjaminan Hutang)
Keduanya tergolong akad yang lazim atas satu pihak. Jika pihak
penggadai (rahin) meninggal, maka barang gadai harus dijual untuk melunasi
hutangnya. Sedangkan dalam hal kafalah (penjaminan) hutang, maka kematian orang
yang berhutang tidak mengakibatkan berakhirnya kafalah, dilakukan pelunasan
hutangnya atau diibra’kan oleh pihak lain. Adapun dalam hal kafalah
al-nafs(penjaminan diri) berakhir dengan kematian pihak kafil atau pihak
makful.
3.
Syirkah dan
Wakalah
Keduanya tergolong akad tidak lazim atas dua pihak oleh karena itu,
kematian seseorang dari sejumlah orang yang berserikat menyebabkan berakhir
syirkah. Yang demikian berlaku juga pada wakalah dengan lantaran kematian wakil
atau muwakil.
4.
Muzara’ah dan
Musyaqah Imam
Hanafiyah tidak membolehkan kedua akad ini, syafi’iyah membolehkan
musyaqah, sedangkan Malikiyah dan Hanabillah membolehkan keduanya. Menurut
fuqaha’ yang membolehkannya, akad muzara’ah dan musyaqah berakhir dengan
kematian pemilik tanah atau pihak pekerja tani. Namun jika pemilik tanah
meninggal sebelum panen maka kedua akad tersebut tetap berlangsung sampai
datang masa panen. Namun apabila pekerja tani meninggal maka ahli warisnya
meneruskan akad sampai datang masa panen.
F. Jenis
- Jenis Khiyar
Khiyar
adalah hak yang dimiliki oleh ‘aqidain untuk memilih antara meneruskan akad
atau membatalkannya dalam hal khiyar syarat dan khiyar ‘aib, atau hak memilih
salah satu dari sejumlah benda dalam khiyar ta’yin. Sebagian khiyar adakalanya
bersumber dari kesepakatan seperti khiyar syarat dan khiyar ta’yin, dan
sebagian lainnya bersumber dari ketetapan syara’ seperti khiyar ‘aib.
Menurut Wahbah
al-Juhailiy ada tujuh belas macam khiyar. Namun dalam kitabnya ia hanya
menerangkan enam macam khiyar yang populer, sebagaimana akan disampaikan
berikut ini.
1.
Khiyar Majlis
Yaitu
hak setiap ‘aqidain untuk memilih antara meneruskan akad atau mengurungkannya
sepanjang keduanya belum berpisah. Artinya suatu akad belum bersifat
lazim(pasti) sebelum berakhirnya majlis akad yang ditandai dengan berpisahnya
‘aqidain atau dengan timbulnya pilihan lain. Khiyar majlis ini tidak berlaku pada
setiap akad, melainkan hanya berlaku pada akad al-mu’awwadhah al maliyah,
seperti akad jual beli dan ijarah.
Khiyar majlis
dipegang teguh oleh fuqoha’ Syafi’iyah dan Hanabillah berdasarkan hadits
riwayat bukhori dan Muslim rasulullah SAW bersbada: “Masing-masing dari
penjual dan pembeli memiliki hak khiyar selama keduanya belum berpisah”6
Sedang fuqoha’
Hanafiyah dan Malikiyah menyangkal keberadaan jenis khiyar ini. Menurut mereka
akad telah sempurna dan bersifat lazim (pasti) semata berdasarkan kerelaan
kedua pihak yang dinyatakan secara formal melalui ijab dan qobul.
2.
Khiyar Ta’yin
Yaitu
hak yang dimiliki oleh pembeli untuk memastikan pilihan atas sejumlah benda
sejenis dan setara sifat atau harganya. Khiyar ini hanya berlaku pada akad
muawwadhah al-maliyah yang mengakibatkan perpindahan hak milik, seperti jual
beli. Yang demikian ini merupakan konsep fuqoha’ Hanafiyah.
Imam Syafi’i dan Ahmad ibnu Hanbali
menyangkal konsep khiyar ta’yin ini dengan alasan bahwa salah satu syarat obyek
akad adalah harus jelas.
Keabsahan
khiyar ta’yin menurut fuqoha’ mazhab Hanafiyah harus memenuhi tiga syarat
sebagai berikut:
a.
Maksimal berlaku pada tiga pilihan obyek akad.
b.
Sifat dan nilai benda-benda yang menjadi obyek pilihan harus setara
dan harganya harus jelas. Jika sifat dan nilai masing-masing benda berbeda
jauh, maka tidak ada artinya khiyar ta’yin ini.
c.
Tenggang waktu khiyar ini tidak lebih dari tiga hari.
3.
Khiyar Syarat.
Yaitu
hak ‘aqidain untuk melangsungkan akad atau membatalkannya selama batas waktu
tertentu yang dipersyaratkan ketika akad berlangsung. Seperti ucapan seorang
pembeli:”saya beli barang dengan hak khiyar ntuk diriku dalam sehari atau tiga
hari”. Sesungguhnya khiyar ini dimaksudkan untuk melindungi pihak yang berakad
dari unsur kecurangan akad. Khiyar ini hanya berlaku pada akad lazim yang dapat
menerima upaya fasah, seeperti jual-beli, ijarah, muzaro’ah, musyaqoh,
mudhorabah, kafalah, hawalah dan lain-lain. Khiyar syarat ini tidak berlaku
pada akad ghairu lazimah seperti wakalah, ariyah, wadi’ah, hibah, wasiat.
Khiyar syarat ini juga tidak berlaku pada akad lazimah yang tidak menerima
upaya fasakh, seperti akad nikah, talak dan khuluk’.
4.
Khiyar ‘Aib
(adanya cacat)
Yakni
hak yang dimiliki oleh salah seorang dari aqidain untuk membatalkan akad atau tetap
melangsungkannya ia menemukan cacat pada obyek akad yang mana pihak lain tidak
memberitahukannya pada saat akad. Khiyar ‘aib ini didasrkan pada riwayat hadits
di mana Nabi Saw, bersabda:”seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim
lainnya, maka tidak halal seorang muslim menjual kepada saudaranya sesuatu yang
mengandung aib kecuali ia harus menjelaskan kepadanya”7
Khiyar ‘Aib harus
memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a.
‘Aib (cacat) tersebut terjadi sebelum akad, atau setelah akad namun
belum terjadi penyerahan.
b. Pihak pembeli
tidak mengetahui akad tersebut ketika berlangsung akad atau ketika berlangsung
penyerahan.
c.
Tidak ada kesepakatan bersyarat bahwasannya penjual tidak
bertanggung jawab terhadap segala cacat yang ada. Jika ada kesepakatan
bersyarat seperti itu, maka hak khiyar pihak pembeli menjadi gugur.
Khiyar ‘aib ini berlaku semenjak pihak pembeli mengetahui adanya
cacat setelah berlangsung akad. Adapun batas waktu untuk menuntut pembatalan
akad terdapat perbedaan pendapat dikalangan fuqoha’.
5.
Khiyar Ru’yat (melihat)
Adalah hak
pembeli untuk membatalkan akad atau tetap melangsungkannya ketika ia melihat
obyek akad dengan syarat ia belum melihatnya ketika berlangsung akadatau
sebelumnya ia pernah melihatnya dalam batas waktu yang memungkinkan telah terjadi
perubahan atasnya.
Konsep khiyar ini
disampaikan oleh fuqoha Hanafiyah, Malikiyah, Hanabillah dan dhahiriyah dalam
kasus jual beli benda yang gaib (tidak ada ditempat) atau benda yang belum
pernah diperiksa, berdasarkan keterangan Hadits: “Barang siapa membeli
sesuatu yang belum pernah dilihatnya, maka baginya hak khiyar ketika
melihatnya”
Sedangkan Imam Syafi’i menyangkal keberadaan khiyar Ru’yat ini,
karena menurutnya jual beli terhadap barang yang ghaib (tidak ada ditempat)
sejak semula sudah tidak sah.
6.
Khiyar Naqd (Pembayaran)
Jika dua pihak
melakukan jual beli dengan ketentuan jika pihak pembeli tidak melunasi
pembayaran, atau jika pihak penjual tidak menyerahkan barang, dalam batas waktu
tertentu, maka pihak yang dirugikan mempunyai hak untuk membatalkan akad atau
tetap melangsungkannya.
Kesimpulan
Dalam kehidupan bermasyarakat kita tidak bisa lepas dari aktifitas
menjual ataupun membeli. Jual beli ialah suatu perjanjian tukar-menukar benda
atau barang yang mempunyai nilai secara sukarela diantara kedua belah pihak,
yang satu menerima benda-benda dan pihak lain menerimanya sesuai dengan
perjanjian atau ketentuan yang telah dibenarkan syara’ dan disepakati.
Pembagian macam-macam Jual – beli dipandang dari segi aspek
obyeknya dan aspek Tsaman mempunyai jenis tersendiri.
Jual beli memiliki rukun dan syarat yang harus dipenuhi agar jual
beli tersebut bisa dikatakan sah. Jual beli dapat dibedakan dalam beberapa
macam yaitu ditinjau dari segi hukumnya, dari segi obyek jual beli maupun
Dalam jual beli juga berlaku khiyar yaitu dibolehkan memilih,
apakah akan meneruskan jual beli atau akan membatalkannya. Agar tidak ada pihak
yang dirugikan dalam pelaksanaan jual beli.
Demikianlah makalah kami paparkan sebagai akhiran, kami mohon ma’af
jika ada kesalahan penulisan atau penyampaian yang kurang sesuai dengan buku
refrensi. Saran dan kritik teman-teman kami butuhkan untuk memperbaiki
kekeliruan dan kekurangan kami.
Terima kasih atas perhatian dan bantuannya.
Wassalam..............
[1]
Abdurrahman al-Zajairiy, fiqh ‘Ala Madzhahibil Arba’ah, Darul Fikri,
Bairut, Juz II, Hlm, 141
[2]. Hadits
sohih,”Subulus Salam, juz III, Hal.4.
3 .wahbah
al-Zuhaily, al-fiqh al-islami wa adillatuhu, juz.iv halm 345-400
4 wahbah Zuhaily, Op.cit, Hal.18
5 .Musthafa
al-Zarqa’ ,Juz 1, hlm.300
6 Subulus
Salam juz III. Hlm.33
7 H.R oleh
Ibn Majah dari sahabat ‘Uqbah ibn ‘Amir, baca Nailul Author, Juz.V, hlm.211

Tidak ada komentar:
Posting Komentar