Sabtu, 21 Maret 2009

MAKALAH JUAL BELI


Bab I
JUAL BELI (Al-Bai’)
A.    Pengertian dan landasan Syar’iy
Para fuqoha’ menyampaikan definisi yang berbeda-beda antara lain, sebagai beriku;[1] Menurut Fuqoha’ Hanafiyah:
“menukarkan harta dengan harta melalui tata cara tertentu, atau mempertukarkan sesuatu yang disenangi dengan sesuatu yang lain melalui tata cara tertentu yang dapat dipahami sebagai al-bai’, seperti melalui ijab dan ta’athi( saling menyerahkan)”.
Imam Nawawi dalam Kitab al-Majmu’ menyampaikan definisi sebagai berikut: “Mempertukarkan harta untuk tujuan pemilikan
Hampir senada pendapat ini Ibnu Qudamah menyampiakan definisi sebagai berikut: “mempertukarkan harta dengan harta dengan tujuan pemilikan dan penyerahan milik”.
Karena jual beli merupakan kebutuhan dhoruri dalam kehidupan manusia, artinya manusia tidak dapat hidup tanpa kegiatan jual-beli, maka Islam menetapkan kebolehannya sebagaimana dinyatakan dalam benak keterangan al-Qur’an dan Hadits Nabi. Misalnya Firman Allah, “Allah menhalalkan Jual beli dan mengharamkan riba” ; (Hendaklah mensaksikannya jika engkau sekalian berjual-beli). Rasulullah SAW, pernah ditanya oleh seorang sahabat, “pekerjaan apakah yang paling baik?...”Beliau menjawab” “pekerjaan yang dilakukan seseorang dengan tangannya dan setiap jual-beli yang baik,[2]
 B. Rukun Dan Syarat Jual Beli
Rukun jual beli menurut Fuqoha’ Hanafiyah adalah ijab dan Qobul yang menunjuk kepada saling menukarkan, atau dalam bentuk lain yang dapat menggantikannya, seperti pada kasus ta’athi sedangkan menurut jumhur fuqoha’ rukun jual beli ada empat: pihak penjual, pihak pembeli, shighat jual beli dan objek jual beli.3

Menurut Mazhab Hanafiyah:
Syarat jual-beli terdapat empat macam syarat yang harus terpenuhi dalam jual-beli:
1.      Syarat in’aqad terdiri dari:
a.       yang berkenaan dengan aqid: harus cakap bertindak hukum.
b.      yang berkenaan dengan akadnya sendiri): adanya persesuaian antara ijab dan qobul, dan berlangsung dalam majelis akad.
c.       (yang berkenaan dengan obyek jual-beli): barangnya ada, berupa mal mutaqowim, milik sendiri, dan dapat diserah-terima ketika akad.
2.      Syarat shihah yang bersifat umum adalah: bahwasannya jual beli tersebut tidak mengandung salah satu dari enam unsur yang merusaknya, yakni: jihalah(ketidakjelasan), ikrah(paksaan), tauqit(pembatasan waktu), gharar (tipudaya), dharar (aniaya) dan persyaratan yang merugikan pihak lain.
Adapun yang bersifat kushus adalah: penyerahan dalam hal jual-beli benda bergerak, kejelasan mengenai harga pokok dalam hal al-ba’i almurabahah, terpenuhinya sejumlah kriteria tertentu dalam hal bai’ul-salam , tidak mengandung unsur riba dalam jual beli harta ribawi.
3.      Syarat nafadz ada dua:
a.       Adanya unsur milkiyah atau wilayah.
b.      Bendanya yang diperjualbelikan tidak mengandung hak orang lain.
4.      Syarat luzum yakni tidak adanya hak khiyar yang memberikan pilihan kepada masing-masing pihak antara membatalkan atau meneruskan jual-beli.
Menurut Madzab Malikyah:
Fuqoha’ Malikiyah merumuskan tiga macam syarat Jual-beli:
a.       berkaitan dengan ‘aqoid yaitu Mumayyiz, cakap hukum, berakal sehat, pemilik barang.
b.      Syarat yang berkaitan dengan shigat yaitu: dilaksanakan dalam satu majlis, antara ijab dan qobul tidak terputus.
c.       Syarat yang berkaitan dengan obyeknya adalah: tidak dilarang oleh syara’, suci, bermanfaat, di ketahui oleh ‘aqid, dapat diserahterimakan.
Menurut Mazhab Syafi’iyah:
Syarat yang berkaitan dengan ‘aqaid: (a) al-rusyd, yakni baligh, berakal dan cakap hukum, (b) tidak dipaksa,(c) Islam, dalam hal jual beli Mushaf dan kitab hadits,(d) tidak kafir harbi dalam hal jual beli peralatan perang.
Fuqoha’ Syafi’iyah merumuskan dua kelompok persyaratan:
a.       Syarat yang berkaitan dengan ijab qobul atau shigat akad:
1.      Berupa percakapan dua pihak (kitobah).
2.      Pihak pertama menyatakan barang dan harganya.
3.      Qobul dinyatakan oleh pihak kedua (mukhatab).
4.      Antara ijab dan qobul tidak terputus dengan percakapan lain.
5.      Kalimat qabul tidak berubah dengan qabul yang baru.
6.      Terdapat kesesuaian antara ijab dan qobul.
7.      Shigat akad tidak digantungkan dengan sesuatu yang lain.
8.      Tidak dibatasi dalam periode waktu tertentu
b.      Syarat  yang berkaitan dengan obyek jual-beli:
1.      Harus suci
2.      Dapat diserah-terimakan
3.      Dapat dimanfaatkan secara syara’
4.      Hak milik sendiri atau milik orang lain dengan kuasa atasnya.
5.      Berupa materi dan sifat-sifatnya dapat dinyatakan secara jelas.
Menurut Madzab Hanabillah:
Fuqoha’ Hanabillah merumuskan tiga kategori persyaratan:
a.       Syarat yang berkaitan dengan para pihak (aqid):
1.      Al-Rusyd (baligh dan berakal sehat) kecuali dalam jual-beli barang-barang yang ringan
2.      Ada kerelaan
b.      Syarat yang berkaitan dengan shigat:
1.      Berlangsung dalam satu majlis.
2.      Antara ijab dan qobul tidak terputus
3.      Akadnya tidak dibatasi dengan periode waktu tertentu.
c.       Syarat yang berkaitan dengan obyek:
1.      Berupa mal (harta)
2.      Harta tersebut milik para pihak
3.      Dapat diserahterimakan
4.      dinyatakan secara jelas oleh para pihak
5.      harga dinyatakan secara jelas.
6.      Tidak ada halangan syara’.
C.Ikhtisar Persamaan dan perbedaan Antara Mazhab
Syarat yang berkaitan dengan aqid (para pihak).
            Semua Mazhab sepakat bahwasanya seorang aqid harus mumayiz, namun mereka berbeda pendapat tentang syarat baligh, Hanfiyah dan malikya menganggapnya sebagai syarat nafadz, sedangkan syafi’iyah dan Hanabillah memasukkannya sebagai syarat in’aqad. Menurut jumhur kebebasan kehendak (ihtiyar) sebagai syarat in’aqad sedang menurut Hanabillah merupakan merupakan nafadz.
Syarat yang berkaitan dengan shigat.
Seluruh Mazhab sepakat bahwasanya shigat akad jual-beli harus dilaksanakan dalam satu majlis, antara keduanya terdapat persesuaian dan tidak terputus, tidak digantungkan dengan sesuatu yang lain dan tidak dibatasi dengan periode waktu tertentu.
Syarat yang berkaitan dengan obyek jual-beli.
            Pada prinsipnya seluruh mazhab sepakat bahwasannya obyek akad haruslah berupa mal mutaqawwim, suci, wujud (ada), diketahui secara jelas dan dapat diserah-terimakan. Dalam hal jihalah (ketidak jelasan obyek akad) menurut Hanafiyah mengakibatkan fasid, sedang menurut jumhur berakibat membatalkan akad jual-beli. Mengenai hak milik, menurut Hanafiyah merupakan syarat nafadz sedang menurut jumhur merupakan syarat in’aqad.

D. Pembagian Macam-Macam Jual – Beli
Dari aspek obyeknya jual-beli dibedakan menjadi empat macam:
1.      Bai’ al-Muqoyadhah, atau bai’ ain bil-‘ain, yakni jual-beli barang dengan barang yang lazim disebut jual-beli barter, seperti menjual hewan dengan gandum.
2.      Bai’ al-Mutlaq, atau bai’ al-ain bil-dain, yakni jual beli barang dengan barang lain secara tangguh atau menjual barang dengan tsaman secara mutlaq, seperti Dirham, Rupiah atau Dolar.
3.      Bai’ al-shar, atau bai’ al-dain bil-dain, yakni mejualbelikan tsaman (alat pembayaran) dengan tsaman lainnya, seperti Dinar, Dirham,Dolar atau alat-alat pembayaran lainnya yang berlaku secara umum.
4.      Bai’al-salam, atau bai’ al-dain bil ain. Dalam hal ini barang yang diakadkan bukan berfungsi sebagai mabi’ melainkan berupa dain (tanggungan) sedangkan uang yang bayarkan sebagai tsaman, bisa jadi berupa ‘ain dan bisa jadi berupa dain namun harus diserahkan sebelum keduanya berpisah. Oleh karena iu tsaman dalam akad salam berlaku sebagai ‘ain.
Dari aspek tsaman, jual-beli dibedakan menjadi empat macam:
1.      Bai’ al-Murabahah, yakni jual-beli mabi’ dengan ra’s al-mal (harga pokok) ditambah sejumlah keuntungan tertentu yang disepakati dalam akad.
2.      Bai’ al-Tauliyah, yakni jual-beli mabi’ dengan harga asal (ra’s al- mal) tanpa ada penambahan harga atau pengurangan.
3.      Bai’ alwadhi’ah, yakni jual beli barang dengan harga asal dengan pengurangan sejumlah harga atau diskon.
4.      Bai’al-Musawamah, yakni jual-beli barang dengan tsaman yang disepakati kedua pihak, karena pihak penjual cenderung merahasiakan harga asalnya. Ini adalah jual beli paling populer berkembang di masyarakat sekarang ini.
Bab II
AKAD DALAM JUAL BELI
A.    Definisi Akad
Dalam terminologi hukum Islam akad didefinisikan sebagai berikut: “Akad adalah pertalian antara ijab dan qobul yang dibenarkan oleh syara’yang menimbulkan akibat hukum terhadap obyeknya”4
            Yang dimaksud dengan ijab dalam definisi akad adalah ungkapan atau pernyataan kehendak melakukan perikatan (akad) oleh suatu pihak, biasanya disebut sebagai pihak pertama. Sedangkan qobul adalah pernyataan atau ungkapan yang menggambarkan kehendak pihak lain, biasanya dinamakan pihak kedua, menerima atau menyetujui pernyataan ijab. Maksud term yang dibenarkan oleh syara’ adalah bahwasanya setiap akad tidak boleh bertentangan dengan ketentuan syari’at Islam. Term ini merupakan batasan normatif yang sangat prinsip dalam fiqih muamalah.
Akad seperti yang disebutkan dalam definisi di atas merupakan salah satu perbuatan atau tindakan hukum. Maksudnya akad (perikatan) tersebut menimbulkan konsekwensi hak dan kewajiban yang mengikat pihak-pihak yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan akad. Perbuatan atau tindakan hukum atas harta benda dalam fiqih muamalah dinamakan al-tasharuf, yang artinya sebagai berikut” segala sesuatu (perbuatan) yang bersumber dari kehendak seseorang dan syara’ menetapkan atasnya sejumlah akibat hukum (hak dan kewajiban).
Sedangkan tindakan hukum (tasharuf) dibedakan menjadi dua.(1) tasharuf yang berupa perbuatan, dan (2) tasharuf yang berupa perkataan (tidak semua perkataan manusia bersifat akad).
B.     Rukun Akad dan Syarat-syaratnya.
Terdapat perbedaan pandangan dikalangan fuqoha’ berkenaan dengan rukun akad. Menurut fuqoha’ Jumhur rukun akad terdiri atas:
1.      Al-‘Aqidain, para pihak yang terlibat langsung dengan akad.
2.      Mahallul ‘aqd, yakni obyek akad, yakni sesuatu yang hendak diakadkan.
3.      Shighat al-‘aqd, yakni pernyataan kalimat akad, yang lazimnya dilaksanakan melalui pernyataan ijab dan pernyataan qobul.
Rukun menurut pengertian istilah fuqoha’ dan ahli ushul adalah:”sesuatu yang menjadikan tegaknya dan adanya sesuatu sedangkan ia bersifat internal (dakhiliy) dari sesuatu yang ditegakkannya”5
Berdsarkan pengertian di atas maka rukun akad adalah kesepakatan dua kehendak, yakni ijab qobul. Seorang pelaku tidak dapat dipandang sebagai rukun dari perbuatannya, karena pelaku bukan merupakan bagian internal dari perbuatannya.
            Adapun syarat menurut pengertian fuqoha’ dan ahlul ushul:”segala sesuatu yang dikaitkan pada tiadanya sesuatu yang lain, tidak pada adanya sesuatu yang lain, sedangkan ia bersifat eksternal (khorijiy).
Maksudnya tiadanya syarat mengharuskan tiadanya masyrut (sesuatu yang disyaratkan), sedang adanya syarat tidak mengharuskan adanya masyrut.
C.    Unsur-Unsur Akad
Unsur pertama:’Aqidaini
Ijab dan qobul yang merupakan esensi akad tidak akan terpenuhi kecuali ada ‘aqidain (kedua pihak yang melakukan akad).
Unsur Kedua: Mahalul Aqad (Obyek Akad)
            Mahalul ‘aqdi atau al-ma’qud ‘alaih adalah sesuatu yang dijadikan obyek akad dan dikenakan padanya akibat hukum yang di timbulkannya. Tidak semua benda (barang) dapat di jadikan obyek akad. Sejumlah benda dipandang tidak dapat menjadi obyek akad baik menurut syara’ maupun menurut adat seperti (Narkoba).
Fuqoha’ menetapkan lima syarat yang harus terpenuhi pada obyek akad:
a.       Obyek akad harus telah ada ketika berlangsung akad.
b.      Obyek akad harus mal mutaqowwim.
c.       Dapat diserah terimakan ketika akad berlangsung.
d.      Obyek akad harus jelas dan dikenali oleh pihak Aqid.
e.       Obyek akad harus suci, tidak najis dan tidak mutanajis.
Unsur Ketiga: Maudhu’ al-Aqad (Tujuan Akad)
            Yang dimaksud Maudhu’ al-Aqad adalah tujuan dan hukum yang mana suatu akad di syari’atkan untuk tujuan tersebut. Untuk satu jenis akad tujuan yang hendak di capainya satu, dan untuk jenis akad lainnya berlaku tujuan yang berbeda.
Untuk akad bai’ tujuan yang hendak dicapai adalah pemindahan pemilikan dari penjual kepada pembeli dengan imbalan (iwadh), akad hibah bertujuan pemindahan hak milik tanpa disertai iwadh, akad ijarah bertujuan pemindahan pemilikan manfaat suatu barang dengan imbalan (iwadh), sedang tujuan akad ijarah adalah penggunaan manfaat harta tanpa disertai imbalan, dan lain sebagainya.
Unsur Keempat: Shighat Aqad (formula Akad)
            Pada prinsipnya makna atau esen akad adalah kesepakatan dua kehendak, dan kesepakatan tersebut lazimnya terjadi melalui formula akad(shighat Akad).
Formula akad(shighat Akad) merupakan unsur akad yang terpenting, bahkan dalam pandangan fuqoha’ Hanafiyah suatu aqad adalahidentik dengan shighatnya. Shighat akad yang terdiri dari ijab dan qobul sesungguhnya merupakan ekspresi kehendak (iradah) yang menggambarkan kesepakatan dan kerelaan kedua belah pihak atas hak dan kewajiban yang ditimbulkan dari perikatan akad.
D. Pembagian Macam-Macam Akad
Pembagian macamdan jenis akad dapat dilakukan dari berbagai aspek dan sudut pandang yang berbeda-beda, sebagaimana berikut:
1.      Akad shahih dan ghairu shahih
Akad shahih adalah akad yang memenuhi seluruh persyaratan yang berlaku pada setiap unsur akad (‘aqidain, shighatul ‘aqd, maudhu’ul naqd, dan mahalul aqd).
Akad ghairu shahih adalah akad yang sebagian unsurnya atau sebagian rukunnya tidak terpenuhi. Seperti akad jual beli barang najis.

2.      Akad Musamma dan Akad Ghairu Musamma
Sejumlah akad yang disebutkan oleh syara’ dengan terminologi tertentu beserta akibat hukumnya dinamakan Akad Musamma. Misalnya, akad bai’, ijarah,syirkah, hibbah, kafalah, wakalah, rahn, wasiat, qordh dan lain sebagainya.
Sedangkan Akad ghairu Musamma adalah akad yang mana syara’ tidak menyebutkan terminologi tertentu dan tidak pula menerangkan akibat hukum yang ditimbulkannya. Berdasarkan kebutuhan manusia dan perkembangan kemaslahatan masyarakat seperti istihna’ bai’ al-wafa’ bai’ istijar, dll.
3.      Dari Segi Maksud dan tujuannya.
Dari segi maksud dan tujuannya, akad dibedakan menjadi tuju macam sebagaimana berikut:
a.       Akad al-tamlikiyah.
b.      Akad al-Isqoth.
c.       Akad al-Ithlaq.
d.      Akad al-Taqyid.
e.       Akad al-tawtsiq.
f.       Akad al-Isytirak.
g.      Akad al-Hifdh.
4.      Akad ‘Ainiyah dan Ghairu ‘Ainiyah
Perbedaan ini di dasarkan dari sisi penyempurnaan akad.
Akad ‘Ainiyah adalah akad yang harus di sempurnakan dengan penyerahan harta benda obyek akad. Seperti Hibbah, ‘Ariyah, wadi’ah, Rahn dan qord. Adapun Akad Ghairu ‘Ainiyah adalah akad yang kesempurnaannya hanya didasarkan pada kesempurnaan bentuk akadnya saja dan tidak mengharuskan adanya penyerahan. Selain lima yang disebutkan diatas termasuk jenis akad Ghairu ‘Ainiyah.
E.Kapan berakhirnya Akad
Berakhirnya akad adakalanya disebabkan karena faskh, kematian atau karena tidak adanya izin pihak lain dalam hal akad yang mauquf.
Berakhirnya Akad karena fasakh:
Hal-hal yang menyebabkan timbulnya fasakhnya akad adalah sebagai berikut:
1.      Fasakh karena Fasadnya akad.
Jika suatu akad berlangsung secara fasid, sperti bai’al-majhul atau bai’al-muaqqat, maka akad harus difasakhkan baik oleh para pihak yang berakad maupun oleh keputusan qodhi. Kecuali terdapat halangan fasakh, misalnya jika pihak pembeli telah menjual atau menghibahkan kepada pihak lain.
2.      Fasakh Karena Khiyar.
Shahibul khiyar berhak memfasakh akad jika menghendakinya, kecuali dalam kasus khiyar ‘aib setelah penyerahan barang, kecuali dengan kerelaan pihak lainnya atau berdasarkan keputusan qhadi.
3.      Fasakh berdasarkan Iqalah.
Iqalah adalah memfasakhkan akad berdasarkan kesepakatan kedua pihak, seperti jika salah satu pihak mereka menyesal lalu menghendaki untuk membatalkannya, yang demikian ini hanya bisa terjadi atas kesepakatan pihak lain.
4.      Fasakh karena Tidak ada Realisasi.
Fasakh ini khusus berlaku pada khiyar naqd, sebagaimana telah diuraikan dimuka. Misalnya karena rusaknya obyek akad sebelum penyerahan, atau seperti pada kasus ijarah lantaran adanya udzur (halangan) pada pihak musta’jir atau pada benda yang disewa dan lainnya.
5.      Fasakh karena jatuh Tempo atau karena tujuan akad telah terealisir.
Jika batas waktu yang ditetapkan dalam akad telah berakhir, atau jika tujuan akad telah terealisir, maka akad dengan sendirinya menjadi fasakh (berakhir). Seperti ketika batas waktu sewa telah berakhir, ketika hutang gadai telah terlunasi, ketika wakalah telah dilaksanakan, dan lain-lainnya.
Berakhirnya Akad Karena Kematian
            Kematian menjadi penyebab berakhirnya sejumlah akad, sebagai berikut:
1.      Ijarah (sewa-menyewa)
Menurut fuqoha’ hanafiyah kematian seseorang menyebabkan berakhirnya akad ijarah. Berdasarkan alasan bahwasannya ijarah merupakan akad yang berlaku atas dua pihak jika ssalah satu pihak meninggal maka dengan sendirinya berakhirlah akad. Menurut jumhur fuqoha’ selain Hanafiyah, kematian seseorang tidak menyebabkan berakhirnya akad ijarah.
2.      Al-Rahn (gadai) dan Kafalah (penjaminan Hutang)
Keduanya tergolong akad yang lazim atas satu pihak. Jika pihak penggadai (rahin) meninggal, maka barang gadai harus dijual untuk melunasi hutangnya. Sedangkan dalam hal kafalah (penjaminan) hutang, maka kematian orang yang berhutang tidak mengakibatkan berakhirnya kafalah, dilakukan pelunasan hutangnya atau diibra’kan oleh pihak lain. Adapun dalam hal kafalah al-nafs(penjaminan diri) berakhir dengan kematian pihak kafil atau pihak makful.
3.      Syirkah dan Wakalah
Keduanya tergolong akad tidak lazim atas dua pihak oleh karena itu, kematian seseorang dari sejumlah orang yang berserikat menyebabkan berakhir syirkah. Yang demikian berlaku juga pada wakalah dengan lantaran kematian wakil atau muwakil.
4.      Muzara’ah dan Musyaqah Imam
Hanafiyah tidak membolehkan kedua akad ini, syafi’iyah membolehkan musyaqah, sedangkan Malikiyah dan Hanabillah membolehkan keduanya. Menurut fuqaha’ yang membolehkannya, akad muzara’ah dan musyaqah berakhir dengan kematian pemilik tanah atau pihak pekerja tani. Namun jika pemilik tanah meninggal sebelum panen maka kedua akad tersebut tetap berlangsung sampai datang masa panen. Namun apabila pekerja tani meninggal maka ahli warisnya meneruskan akad sampai datang masa panen.
F. Jenis - Jenis Khiyar
Khiyar adalah hak yang dimiliki oleh ‘aqidain untuk memilih antara meneruskan akad atau membatalkannya dalam hal khiyar syarat dan khiyar ‘aib, atau hak memilih salah satu dari sejumlah benda dalam khiyar ta’yin. Sebagian khiyar adakalanya bersumber dari kesepakatan seperti khiyar syarat dan khiyar ta’yin, dan sebagian lainnya bersumber dari ketetapan syara’ seperti khiyar ‘aib.
Menurut Wahbah al-Juhailiy ada tujuh belas macam khiyar. Namun dalam kitabnya ia hanya menerangkan enam macam khiyar yang populer, sebagaimana akan disampaikan berikut ini.
1.      Khiyar Majlis
Yaitu hak setiap ‘aqidain untuk memilih antara meneruskan akad atau mengurungkannya sepanjang keduanya belum berpisah. Artinya suatu akad belum bersifat lazim(pasti) sebelum berakhirnya majlis akad yang ditandai dengan berpisahnya ‘aqidain atau dengan timbulnya pilihan lain. Khiyar majlis ini tidak berlaku pada setiap akad, melainkan hanya berlaku pada akad al-mu’awwadhah al maliyah, seperti akad jual beli dan ijarah.
Khiyar majlis dipegang teguh oleh fuqoha’ Syafi’iyah dan Hanabillah berdasarkan hadits riwayat bukhori dan Muslim rasulullah SAW bersbada: “Masing-masing dari penjual dan pembeli memiliki hak khiyar selama keduanya belum berpisah”6
Sedang fuqoha’ Hanafiyah dan Malikiyah menyangkal keberadaan jenis khiyar ini. Menurut mereka akad telah sempurna dan bersifat lazim (pasti) semata berdasarkan kerelaan kedua pihak yang dinyatakan secara formal melalui ijab dan qobul.
2.      Khiyar Ta’yin
Yaitu hak yang dimiliki oleh pembeli untuk memastikan pilihan atas sejumlah benda sejenis dan setara sifat atau harganya. Khiyar ini hanya berlaku pada akad muawwadhah al-maliyah yang mengakibatkan perpindahan hak milik, seperti jual beli. Yang demikian ini merupakan konsep fuqoha’ Hanafiyah.
            Imam Syafi’i dan Ahmad ibnu Hanbali menyangkal konsep khiyar ta’yin ini dengan alasan bahwa salah satu syarat obyek akad adalah harus jelas.
Keabsahan khiyar ta’yin menurut fuqoha’ mazhab Hanafiyah harus memenuhi tiga syarat sebagai berikut:
a.       Maksimal berlaku pada tiga pilihan obyek akad.
b.      Sifat dan nilai benda-benda yang menjadi obyek pilihan harus setara dan harganya harus jelas. Jika sifat dan nilai masing-masing benda berbeda jauh, maka tidak ada artinya khiyar ta’yin ini.
c.       Tenggang waktu khiyar ini tidak lebih dari tiga hari.

3.      Khiyar Syarat.
Yaitu hak ‘aqidain untuk melangsungkan akad atau membatalkannya selama batas waktu tertentu yang dipersyaratkan ketika akad berlangsung. Seperti ucapan seorang pembeli:”saya beli barang dengan hak khiyar ntuk diriku dalam sehari atau tiga hari”. Sesungguhnya khiyar ini dimaksudkan untuk melindungi pihak yang berakad dari unsur kecurangan akad. Khiyar ini hanya berlaku pada akad lazim yang dapat menerima upaya fasah, seeperti jual-beli, ijarah, muzaro’ah, musyaqoh, mudhorabah, kafalah, hawalah dan lain-lain. Khiyar syarat ini tidak berlaku pada akad ghairu lazimah seperti wakalah, ariyah, wadi’ah, hibah, wasiat. Khiyar syarat ini juga tidak berlaku pada akad lazimah yang tidak menerima upaya fasakh, seperti akad nikah, talak dan khuluk’.
4.      Khiyar ‘Aib (adanya cacat)
Yakni hak yang dimiliki oleh salah seorang dari aqidain untuk membatalkan akad atau tetap melangsungkannya ia menemukan cacat pada obyek akad yang mana pihak lain tidak memberitahukannya pada saat akad. Khiyar ‘aib ini didasrkan pada riwayat hadits di mana Nabi Saw, bersabda:”seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya, maka tidak halal seorang muslim menjual kepada saudaranya sesuatu yang mengandung aib kecuali ia harus menjelaskan kepadanya”7
            Khiyar ‘Aib harus memenuhi persyaratan sebagai berikut:
a.       ‘Aib (cacat) tersebut terjadi sebelum akad, atau setelah akad namun belum terjadi penyerahan.
b.      Pihak pembeli tidak mengetahui akad tersebut ketika berlangsung akad atau ketika berlangsung penyerahan.
c.       Tidak ada kesepakatan bersyarat bahwasannya penjual tidak bertanggung jawab terhadap segala cacat yang ada. Jika ada kesepakatan bersyarat seperti itu, maka hak khiyar pihak pembeli menjadi gugur.
Khiyar ‘aib ini berlaku semenjak pihak pembeli mengetahui adanya cacat setelah berlangsung akad. Adapun batas waktu untuk menuntut pembatalan akad terdapat perbedaan pendapat dikalangan fuqoha’.
5.      Khiyar Ru’yat (melihat)
Adalah hak pembeli untuk membatalkan akad atau tetap melangsungkannya ketika ia melihat obyek akad dengan syarat ia belum melihatnya ketika berlangsung akadatau sebelumnya ia pernah melihatnya dalam batas waktu yang memungkinkan telah terjadi perubahan atasnya.
            Konsep khiyar ini disampaikan oleh fuqoha Hanafiyah, Malikiyah, Hanabillah dan dhahiriyah dalam kasus jual beli benda yang gaib (tidak ada ditempat) atau benda yang belum pernah diperiksa, berdasarkan keterangan Hadits: “Barang siapa membeli sesuatu yang belum pernah dilihatnya, maka baginya hak khiyar ketika melihatnya”
Sedangkan Imam Syafi’i menyangkal keberadaan khiyar Ru’yat ini, karena menurutnya jual beli terhadap barang yang ghaib (tidak ada ditempat) sejak semula sudah tidak sah.
6.      Khiyar Naqd (Pembayaran)
Jika dua pihak melakukan jual beli dengan ketentuan jika pihak pembeli tidak melunasi pembayaran, atau jika pihak penjual tidak menyerahkan barang, dalam batas waktu tertentu, maka pihak yang dirugikan mempunyai hak untuk membatalkan akad atau tetap melangsungkannya.
Kesimpulan
Dalam kehidupan bermasyarakat kita tidak bisa lepas dari aktifitas menjual ataupun membeli. Jual beli ialah suatu perjanjian tukar-menukar benda atau barang yang mempunyai nilai secara sukarela diantara kedua belah pihak, yang satu menerima benda-benda dan pihak lain menerimanya sesuai dengan perjanjian atau ketentuan yang telah dibenarkan syara’ dan disepakati.
Pembagian macam-macam Jual – beli dipandang dari segi aspek obyeknya dan aspek Tsaman mempunyai jenis tersendiri.
Jual beli memiliki rukun dan syarat yang harus dipenuhi agar jual beli tersebut bisa dikatakan sah. Jual beli dapat dibedakan dalam beberapa macam yaitu ditinjau dari segi hukumnya, dari segi obyek jual beli maupun
Dalam jual beli juga berlaku khiyar yaitu dibolehkan memilih, apakah akan meneruskan jual beli atau akan membatalkannya. Agar tidak ada pihak yang dirugikan dalam pelaksanaan jual beli.
Demikianlah makalah kami paparkan sebagai akhiran, kami mohon ma’af jika ada kesalahan penulisan atau penyampaian yang kurang sesuai dengan buku refrensi. Saran dan kritik teman-teman kami butuhkan untuk memperbaiki kekeliruan dan kekurangan kami.
Terima kasih atas perhatian dan bantuannya.

Wassalam..............


[1] Abdurrahman al-Zajairiy, fiqh ‘Ala Madzhahibil Arba’ah, Darul Fikri, Bairut, Juz II, Hlm, 141
[2]. Hadits sohih,”Subulus Salam, juz III, Hal.4.
3 .wahbah al-Zuhaily, al-fiqh al-islami wa adillatuhu, juz.iv halm 345-400
4  wahbah Zuhaily, Op.cit, Hal.18
5 .Musthafa al-Zarqa’ ,Juz 1, hlm.300
6 Subulus Salam juz III. Hlm.33
7 H.R oleh Ibn Majah dari sahabat ‘Uqbah ibn ‘Amir, baca Nailul Author, Juz.V, hlm.211


Tidak ada komentar:

Posting Komentar